Selasa, 22 Oktober 2013

Akar Dan Dalang

Judul : Akar Dan Dalang Pembantaian Manusia Tak Berdosa Dan Penggulingan Bung Karno
Penulis : Suar Suroso
Penerbit : Ultimus [Bandung]
Tahun Terbit : September 2013
Tebal Halaman : 264 + xxx

Rasanya baru akun twitter penerbit Ultimus yang menyajikan kultwit dengan jumlah kicauan yang cukup epic. Lebih dari 1000 twit meluncur dengan tagar AkarDalang, berisi cukilan-cukilan singkat dari naskah buku yang berjudul lengkap Akar Dan Dalang Pembantaian Manusia Tak Berdosa Dan Penggulingan Bung Karno. Bukan kesimpulan yang menjadi spoiler, tapi benar-benar bagian dari isi buku yang diurutkan dari awal hingga akhir naskah. Sebelumnya Ultimus telah banyak membukukan tulisan-tulisan berupa memoar, puisi, ataupun essay dari orang-orang yang sedikitnya pernah kehilangan haknya sebagai manusia bebas akibat huru-hara politik Indonesia pada 1965. Buku ini adalah salah satunya. Ditulis oleh Suar Suroso, seorang Indonesia yang bermukim lama di luar negeri, yang karena latar belakang politiknya oleh Orde Baru diingkari keberadaannya.

Cerita seputar peristiwa 1965, PKI, ataupun kelompok kiri di Indonesia selalu menjadi topik yang ‘seksi’ untuk disimak, menjadi daya tarik dan nilai jual tersendiri. Terbukanya selubung gelap sejarah menjadi ekspektasi lebih ketika memulai membaca buku yang ‘kekiri-kirian’. Saya menikmati sajian kisah sejarah PKI di buku ini sampai-sampai lupa dengan ekspektasi awal untuk mencari beberapa jawaban mengenai rentetan peristiwa pemanggilan para Jenderal pada 1 Oktober 1965 dini hari. Namun buku ini nampaknya memang tidak dimaksudkan untuk kembali menjabarkan kronologis peristiwa pemanggilan para perwira tinggi TNI AD. Suar Suroso melihat huru-hara tahun 65 itu dari sisi yang lain, memaksudkan konteks perang dingin untuk menjelaskan penyebab layar gelap dalam sejarah Indonesia tersebut.

Logika yang berusaha dibangun melalui buku ini diawali dari penjelasan kondisi politik dunia saat perang dingin, di mana Blok Barat dan Blok Timur yang saling berebut pengaruh di negara-negara dunia ketiga. Kondisi ini dikerucutkan pada penyajian fakta mengenai keterlibatan pemerintah AS dalam penggulingan-penggulingan kekuasaan di beberapa negara untuk kemudian mendudukan pemerintahan baru yang dapat dikontrol oleh AS. Dari sana kemudian ditarik benang merah dengan yang terjadi di Indonesia, pecahnya peristiwa Gestok yang memicu tergulingnya Soekarno dan diberangusnya PKI.

Kebijakan luar negeri AS yang oleh Suar disebut-sebut sebagai politics of concealment danpolitics rollback ditengarai menjadi kebijakan awal yang menjadi akar permasalahan peristiwa 65. Pelaksanaannya dikaitkan dengan aktivitas kelompok komunis di Indonesia yang dilihat sebagai ancaman kepentingan AS. Latar belakang peristiwa 65 ini ditarik Suar jauh ke belakang yang nampaknya tidak terpilah mana peristiwa yang dapat diajukan sebagai benang merah dan mana yang hanya berupa kisah bagian dari perkembangan PKI. Cerita menarik justru pada pemaparan versi lain dari sejarah perkembangan PKI sejak masih menjadi sempalan di Syarikat Islam sampai tahun 1965. Dalam pemaparannya tidak jarang menyelipkan stereotype ‘Trotskis’ pada kelompok kiri lainnya yang ‘murtad’ dari PKI.

Saya lebih suka untuk menyebut buku ini sebagai historiografi PKI dibanding jika disebut sebagai salah satu versi dari penyingkapan seputar peristiwa Gestok. Karena toh porsi di dalamnya lebih banyak memuat sejarah perkembangan PKI, daripada berjibaku untuk menjelaskan dokumen-dokumen penting dan penerapannya sebagai bukti otentik persekongkolan antara dinas intelijen AS dengan sekelompok perwira di tubuh militer Indonesia sebagai dalang penggulingan Soekarno.Karena itu cukup disayangkan jika pertautan itu cenderung tergeneralisir dan justru lebih banyak diarahkan pada kiprah PKI yang membahayakan pihak barat, sehingga seakan-akan buku ini hanya menjadi bentuk pembelaan Suar untuk partainya dulu.

PEMBANTAIAN manusia tak berdosa dan penggulingan Bung Karno adalah maha-malapetaka menimpa Indonesia di pertengahan abad ke-20. Ini merupakan halaman hitam sejarah. Bukan saja sejarah Indonesia, bahkan sejarah dunia. Betapa tidak! Indonesia waktu itu adalah negeri besar kelima di dunia dalam jumlah penduduk. Rakyat Indonesia yang besar dan beradab telah jadi korban kebiadaban strategi negara adikuasa. Indonesia yang cemerlang, mercusuar perjuangan rakyat-rakyat sedunia melawan kekuasaan lalim imperialisme, berubah wajah jadi pengekor negara adidaya. Ini dipicu oleh Peristiwa Gerakan 30 September 1965.
Peristiwa ini bukanlah hanya menyangkut Indonesia. Lebih-lebih lagi bukan hanya menyangkut Bung Karno, PKI, dan Angkatan Darat. Ini terjadi dalam dunia yang sedang dilanda Perang Dingin. Para pelaku, jagal-jagal pembantai manusia sampai para pelaku penggulingan Bung Karno hanyalah eksekutor, pelaksana sadar atau tidak sadar dari strategi Perang Dingin, yaitu pembasmian kaum komunis di mana saja muncul, termasuk pembasmian atas kaum komunis Indonesia; strategi yang bertujuan membikin punah PKI di Indonesia untuk selama-lamanya. Maka akar peristiwa ini tidaklah terdapat di Indonesia. Hanyalah dengan mengupas secara menyeluruh, mengupas saling hubungannya dengan dunia yang sedang dilanda Perang Dingin, barulah bisa membongkar akar dan menemukan dalangnya, barulah jelas-jemelas hakikat sesungguhnya peristiwa itu.
Suar Suroso lahir di Padang, Sumatra Barat, 16 Mei 1930. Setelah peristiwa 30 September 1965, pada bulan Agustus 1966 paspornya dicabut oleh KBRI Moskow; 1967 dinyatakan persona-non-grata oleh Pemerintah Sovyet karena memprotes kerja sama antar Pemerintah Uni Sovyet dan Pemerintah Indonesia di bawah rezim Soeharto. Sejak Februari 1967 meninggalkan Uni Sovyet dan bersama istri dan dua anaknya bermukim di Tiongkok. Sejumlah sajaknya dimuat dalam Di Negeri Orang, kumpulan sajak para penyair eksil di Eropa Barat. Karya-karya yang sudah dibukukan: Bung Karno Korban Perang Dingin; Peristiwa Madiun – PKI Korban Perang Dingin; Bung Karno, Marxisme, dan Pancasila; Marxisme Sebuah Kajian, Dinyatakan Punah Ternyata Kiprah; Peristiwa Madiun – Realisasi Doktrin Truman di Asia; Asal Usul Teori Sosialisme, Marxisme sampai Komune Paris; Jelita Senandung Hidup, Kumpulan Puisi Jilid 1; dan Pelita Keajaiban Dunia, Kumpulan Puisi Jilid 2.
buku-suar-surosoAKAR dan DALANG
Pembantaian Manusia Tak Berdosa dan Penggulingan Bung Karno
© Suar Suroso
Editor: Koesalah Soebagyo Toer, Bilven
Desain sampul: Dhany A.
Diterbitkan oleh Ultimus
Cetakan 1, September 2013
xxxvi + 264 hlm.; 14,5 x 20,5 cm
978-602-8331-45-6
Rp65,000
Untuk pemesanan, silakan hubungi akun twitter » @ultimusbandung @pemudamerah

Kamis, 26 September 2013

10 Lagu lokal protes terbaik


Indonesia kaya akan lagu politis, maklum sejarah panjang dikentuti rezim melahirkan juga kondisi dimana karya-karya demikian hadir. Namun, entah kenapa lagu-lagu bertemakan sosial-politik itu kebanyakan hanya berupa reportase saja. ‘Oh, tanah air ku dijarah’, ‘Oh di tanahku ada yang mati ditembak’, ‘Oh negeriku banyak orang serakah’ dan reportase sejenis lainnya yang tidak saya anggap sebagai lagu protes. Jarang ditemukan lagu yang menginspirasi, memprovokasi dan mengajak orang lain untuk berbuat. Terlebih lagu protes yang keren. Namun, sepuluh berikut saya rasa mewakili, so here we go:
1. Iwan Abdurrahman – Mentari
Lagu protes terbaik di negeri ini lahir dalam bentuk balada melankolis. Dengan latar belakang pemberontakan mahasiswa yang massif tahun 77-78 yang menolak pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden termasuk mencela pembangunanisme-nya, kebijakan utang luar negeri serta proyek pembangunan Taman Mini Indonesia Indah. Harto meresponnya dengan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) yang menempatkan militer menduduki kampus-kampus dan para aktivisnya dibui. Abah Iwan menulis lagu ini bagi mereka yang berada di garis depan dan dipenjarakan. Saat pertama kali mendengarnya, saya tak begitu peduli karena versi yang Bapak putar di tahun 80-an dulu dinyanyikan Euis Darliah tidak menarik perhatian.Hingga tiba saat kuliah dan berada ditengah-tengah massa aksi yang dengan hikmat menyanyikan lagu ini seolah himne perang sebelum merangsek barikade ‘bubur kacang hijau’ di circa 95-96an. Lirik lagunya tidak secara langsung menyerukan protes, namun memiliki kombinasi nada dan lirik yang berpotensi menginjeksi nyali dan nyaris melenyapkan rasa takut. Ketika bait terakhir “Hari ini hari milikku” habis dinyanyikan ia memiliki efek yang serupa dengan melahap sebaskom mushroom tai kerbau dan berhalusinasi jika senjata yang ditenteng tentara didepan kalian itu adalah senjata plastik, meski pada akhirnya tetap saja benjut dan bocor dipopor. Hari ini rezim tak perlu militer untuk menjinakkan perlawanan dari kampus, cukup mengetatkan waktu studi dan sederet peraturan akademis cemen untuk merubah mahasiswa menjadi kambing. Aktivisme politik mereka hari ini paling banter menjadi cunguk elit para alumnus/senior mereka yang bertebaran jadi pedagang politik di luar sana.
2. Swami – Bongkar
No matter how shitty Iwan Fals is now, saya tak bisa menyangkal ia pernah menulis salah satu lagu protes paling hebat di Indonesia.Saya bilang Iwan Fals, karena saya tak yakin anggota sisa Swami lainnya memiliki intuisi cantik dan nyali menulis dan melempar lagu yang menyerukan pemberontakan di tengah rezim yang sedang kuat-kuatnya menjajah. Lagu ini bisa ditemukan di tengah demonstrasi manapun sejak ia dirilis, dari aksi di Semanggi hingga pemogokan pabrik tekstil di Cibabat, di penggusuran PKL hingga penolakan kooptasi lahan di Bandung Utara.Saya pernah menyaksikan, pada sebuah aksi pendudukan TVRI lokal di Cibaduyut 13 tahun lampau, seorang warga yang ikut ke dalam barisan mengayunkan lempengan besi pagar ke barikade Brimob, dengan menyanyikan bait “Ternyata kita harus ke jalan/ Robohkan setan yang berdiri mengangkang”. This is an ultimate riot folk song. Dengan latar belakang protes atas penenggelaman sebuah desa untuk kepentingan pembuatan waduk di Kedung Ombo, konon lirik lagu ini sudah mengalami pengeditan setelah Iwan diyakini anggota Swami lain dan kerabatnya untuk merubahnya agar bisa tetap dirilis. Dengan kemegahan dan kekuatan lagu ini, saya hampir tak bisa percaya jika ini ditulis oleh Iwan Fals yang sama yang hari ini muncul di iklan kopi sambil menyeru ‘Bongkar!’ tiga kali dan mereduksinya menjadi lawakan komersil. Ironisnya, ini terjadi di zaman yang sudah relatif aman untuk bersuara garang dan penindasan bercorak akumulasi primitif yang melatarbelakangi lagu ini semakin nyata (jika tak bisa dibilang bertambah), dari Sampalan hingga Kulon Progo, dari Bima, Mesuji hingga Sidoarjo.
3. Efek Rumah Kaca – Di Udara
Mustahil tidak mengikutsertakan lagu ini yang nyaris menjadi favorit semua orang. Ketika pertama kali di 2007 lampau saya mendengar kabar ada band lokal baru yang keren nyerempet Jeff Buckley dan ber-folk rock ria, saya tak pernah menyangka mereka memiliki lagu protes sekuat ini. Di era pasca-reformasi membuat lagu protes yang menginspirasi adalah sesuatu yang tidak mudah karena kebanalan protes itu sendiri. Tak percaya? silahkan dengar kembali lagu-lagu protes Ahmad Dhani di “Ideologi, Sikap, Otak” yang norak itu. Dalam hal ini, Efek Rumah Kaca memberi contoh bagaimana melakukannya dengan benar (baca: keren). Pada dasarnya lagu ini mengangkat pembunuhan sistematis almarhum Munir yang dilakukan oleh negara, namun Cholil, Adrian dan Akbar menulis lagu ini dengan kekuatan lirik yang melampaui memori Munir itu sendiri. Ia bercerita tentang kekuatan tekad dan keyakinan yang tidak bisa dibungkam oleh apapun, termasuk oleh terror dan kekuatan militeristik, mengingatkan saya kembali pada konsekuensi keberpihakan namun ERK membuatnya jauh dari kesan martyrdom. Sampai sekarang bulu kuduk saya selalu berdiri ketika lagu ini mereka mainkan di panggung.

4. Hark! Its A Crawling Tartar – Syamsul Bahri Menggugat

Ucok HOMICIDE "Usung Kritik dalam Lirik Sarkastis"

Bandung - Mungkin banyak yang tidak mengenal nama Heri Sutresna (35). Tapi coba sebut saja nama populernya Ucok Homicide, perannya dalam perkembangan scene hip hop di Indonesia khususnya Bandung sudah tak terkatakan lagi.

Setiap lirik musiknya mengandung nada sarkastis dan tajam yang menyorot pada kondisi sosial dan politik tanah air yang gonjang ganjing. Homivide, menjadi grup hip hop yang dalam perjalanannya sempat menuai kontroversi. Meskipun demikian Ucok hanya menyikapinya dengan santai.

"Indonesia pasca 1998 adalah Indonesia dengan euforia demokrasi, yang artinya akan ada sejumlah pihak yang meledak dan tidak bisa memaknai arti demokrasi itu sendiri. Ya itu sebuah resiko dari suatu pergerakan. Namun yang semacam itu akan terus berulang," ujar Ucok panjang lebar.

Selain lirik bernada kritis, Ucok memiliki idealisme tinggi. Ucok dan Homicide jarang tampil di acara-acara besar bersifat komersil. Menurutnya, bermusik tidak harus terekspos secara kasat mata.

"Acara-acara besar biasanya mengusung label besar sponsor. Jujur saja kita memang menghindari label-label korporat semacam itu" ujar Ucok lagi.

Namun tidak berarti Ucok menolak semua tawaran yang berbumbu komersil. "Kalau acaranya masih dalam tataran yang logis seperti donasi ke korban bencana ya kenapa tidak kita bantu," kata Ucok seraya menghisap rokoknya dalam-dalam.

Uniknya, sekalipun jauh dari kata komersil banyak pihak yang menyanjung musikalitas Ucok dan Homicide. "Ya, itu bisa jadi karena kita memainkan musik tanpa pakem A,B,C atau apapun. Toh apa yang kita mainkan kita biarkan mengalir bebas begitu saja," ujar Ucok bijak.

sumber:http://bandung.detik.com

Rabu, 03 Juli 2013

What?

Ya jomblo... itu bisa di bilang nasib bisa juga di bilang pilihan. Siapa sih yang mau hidup sediri alias jomblo?
Pasti semua orang gak pengen hidup sendiri pasti punya keinginan mempunyai pasangan, tapi disini gue mau jujur, gue juga pengen punya pasangan yang bisa perhatian sama gue. Kalau pagi ada yg ngucapin "selamat pagi sayang, semangat ya" terus bilang "jangan lupa makan ya sayang'' aaaaah...
Tapi disisi lain seorang pasangan (cowok) punya tanggung jawab yang lebih besar, nah disini gue belum bisa. Contoh aja kaya jajanin ngajak keluar makan bukan masalah ceweknya yg matre tapi emang gak bisa di pungkirin itu salah satu tanda kasih sayang terhadap pasangan. Terus masalahnya gue sendiri uang jajan masih minta orang tua belum bisa nyari sendiri. Jujur gue malu kalau pacaran harus minta uang ke orang tua, mangkanya gue belum berani buat nyari pacar, gue pengen kerja biar dapet penghasilan sendiri, jajanin pacar pakek uang dari jeri payah sendiri menurut gue itu hal yang sangat keren :)